March 5, 2024
Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Harsono Adi saat diwawancarai suaraumat.com di kantor Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI). (Foto: Gabriel Hartanto
Penulis: Mihardo Saputro

JAKARTA, suaraumat.com – Pluralisme menjadi sebuah paham yang amat
lekat dengan kehidupan bangsa Indonesia. Paham inilah yang mengakar kuat dan
membuat kita semua dapat mentoleransi semua perbedaan yang ada. Nilai-nilai akan pluralisme
juga telah tertuang jelas dalam dasar negara kita yakni pancasila. Dimana
terdapat semboyan “Bhineka
Tunggal Ika
” yang berarti berbeda-beda namun tetap satu tujuan.

Meski semboyan “Bhineka Tunggal Ika” telah melekat dalam dasar negara, namun masih
ada saja individu serta kelompok yang mengabaikan atau bahkan menolak individu
atau kelompok masyarakat lain yang memiliki pandangan atau prinsip yang berbeda
dengan kelompoknya. Pluralisme di Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh
masyarakat Indonesia sendiri, dimana masih terjadi keributan-keributan antar
etnis atau antar agama di beberapa daerah di Indonesia. Hal tersebut menjadi
bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia belum memahami makna dari Plurarisme itu
sendiri.

Berkaitan dengan hal tersebut, berikut wawancara suaraumat.com dengan Ketua Asosiasi
Pendeta Indonesia (API) Harsono Adi:


Bagaimana sebenarnya kondisi masyarakat
Indonesia saat ini terkait dengan toleransi?

Menurut pengamatan saya,
kualitas toleransi masyarakat Indonesia belakangan ini menurun. Indikator ini
bisa kita lihat ketika pemilihan gubernur DKI Jakarta, dimana pada saat itu ada
dua pihak yang pro dan kontra. Kemudian hal itu
 
berlanjut pada PEMILU 2019 kemarin, antara “01” dan “02”. Contoh
sederhana bisa kita lihat di sekitar kita, dari media sosial hingga lingkungan
sosial, masyarakat kita hampir terbelah. Inilah yang menurut saya membuat
kondisi tidak sehat untuk kita semua. Karena itu saya berharap setelah PEMILU
kondisi masyarakat kita bisa lebih baik lagi.

Pemahaman masyarakat Indonesia tentang
toleransi itu sendiri seperti apa?

Saya ambil contoh dalam
kehidupan bertetangga. Ketika ditanya, apakah anda tahu bahwa tetangga anda
berlainan agama? Ya, saya tahu. Apakah kamu tahu tetangga kamu berlainan suku?
Ya, saya tahu. Apakah kamu menerima? Ya, saya menerima. Tapi jika ditanya lebih
lanjut, apakah kamu setuju dengan tetanggamu yang berlainan agama melaksanakan
ibadahnya? Di sinilah letak permasalahannya. Dan dari jawaban pertanyaan
tersebutlah kita bisa menilai apakah orang tersebut memahami pluralisme atau
hanya toleransi sekadarnya.

Apa yang harus dilakukan guna mewujudkan
masyarakat yang pluralis?

Keluarga adalah bagian
terpenting dalam kehidupan masyarakat, maka harus dimulai dari keluarga. Toleransi
dan pluralisme dapat kita tanamkan di keluarga kita dengan cara mengajarkan
anak-anak kita tentang bagaimana kita menerima k
eberagaman, artinya, untuk hidup secara toleran pada tatanan
masyarakat yang berbeda suku, gologan, agama, adat, hingga pandangan hidup dan
kemanusiaan. Jika hal tersebut kita lakukan secara terus-menerus, s
aya yakin, toleransi dan pluralisme yang selama
ini kita impikan dapat terwujud.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to content