February 29, 2024
Mahendra Jaya saat diwawancarai suaraumat.com ketika menghadiri acara Peringatan 1 Suro 1441 Hijriah di Kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat
(Foto: Mihardo Saputro

Penulis: Mihardo Saputro

INDRAMAYU, suaraumat.com – Menyikapi radikalisme yang ada di
Indonesia, pria pemegang gelar insinyur teknik sipil ini mengatakan, “Kita
tidak harus
frontal attack untuk
menghadapinya, karena kita pasti akan ribut sesama saudara. Jalan terbaik
adalah
flanking attack, sehingga disintegrasi
bangsa bisa dijaga.
Inilah strategi
yang harus kita lakukan dan kita pikirkan secara matang, salah satunya dengan
budaya. Budaya-budaya yang telah lama ditinggalkan kita hidupkan kembali agar tujuan mereka untuk menghancurkan Indonesia dengan melemahkan budaya-budaya yang ada kemudian menggantinya dengan budaya dari luar tidak tercapai,” kata Mahendra.

Cara lainnya adalah dengan berberdiskusi
bersama, doa bersama serta duduk bersama antar agama. Selain mencegah
radikalisme, di sini juga kita sudah mulai menjalankan apa itu toleransi antar
agama itu sendiri. “Memang positif dan negatif itu selalu berjalan beriringan,
begitu pula halnya dengan toleransi dan intoleransi. Namun, pada akhirnya waktu
juga yang akan membuktikan, mana yang akan bertahan. Semakin ada gesekan dan semakin
ada perbedaan, maka kita semakin mengerti arti pentinganya toleransi. Karena
kita semua pasti menginginkan kedamaian,” tambah Mahendra.

Berkaitan dengan maraknya kasus
intoleran belakangan ini, Mahendra Jaya berpendapat bahwa toleransi yang ada
sekarang ini sudah luntur.  “Banyaknya
kalangan masyarakat yang merasa bahwa mereka lebih baik dari yang lain membuat
mereka merasa benar sedangkan yang  lain
salah. Ini benar-benar tidak baik. Hal-hal seperti ini harus kita kikis dari
sekarang,” ujarnya.


Dalam agama Hindu diajarkan,
bahwa jika kita ingin menghargai pemberian Tuhan maka kita harus merawat apa
yang sudah diberikan Tuhan kepada kita. Bangsa Indonesia beserta segala isinya,
termasuk semua perbedaan di dalamnya adalah pemberian Tuhan yang sangat luar
biasa, oleh karena itu kita harus menjaga dan merawatnya. “Dengan kita menjaga
dan merawat itu semua, otomatis kita umat manusia bisa hidup damai,” pungkas
Mahendra.

Jika kita melihat kebelakang, Mpu
Tantular membuat karya yang luar biasa namanya Sutasoma dan itu dipakai di kaki
Burung Garuda, yaitu Bhineka Tunggal Ika. Walaupun Mpu Tantular adalah penganut
agma Buddha, tapi dia sangat terbuka dengan agama lainnya, terutama Hindu. “Jadi,
sejak dulu, kita masyarakat Hindu sudah diajarkan hidup dengan berbagai warna
kehidupan, berbagai macam suku, aliran kepercayaan dan lain sebagainya,” ujar
Mahendra Jaya.

“Dalam Hindu sendiri,  setiap kali kita merayakan hari raya Nyepi,
kita pasti membuat pawai budaya Ogoh-ogoh yang dilakukan di Jl. Malioboro dan
kami mengajak semua teman-teman dari kalangan agama untuk ikut meramaikannya.
Selain itu, kita juga sering mengadakan upacara-upacara keagamaan,  seperti upacara Gili Kerti yang tiap tahun
kita lakukan di Kaliurang, upacara Wana Kerti yang tiap tahun kita lakukan di
Gunung Kidul dan ada juga Melasti. Semua rangkaian upacara itu kita lakukan,
selain berdoa untuk menetralisir hal-hal negatif, ini juga cara-cara kita
menangkal radikalisme,” tutur Mahendra menjelaskan.

“Jangan pernah lelah apalagi menyerah untuk
membangun Indonesia yang luar biasa ini. Indonesia adalah bangsa yang besar,
dengan berbagai macam suku, ras, agama dan budaya, maka kita harus bisa
mengaplikasikan toleransi dengan baik agar kedamaian itu bisa terwujud. Untuk
itu, mari kita bersatu  dan saling
berpegangan tangan menghadapi ancaman radikalisme di Indonesia,” ujar Mahendra
menutup pembicaraan.

***

* Penulis adalah Redaktur Pelaksana di Tabloid Suara Umat


Berikut adalah video sebuah lagu untuk Indonesia karya anak bangsa:




About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to content