Juni 20, 2024
Ekspresi Pdt. Yohannes Nahuway saat diwawancara oleh suaraumat.com di GBI Mawar Saron, Kelapa Gading, Jakarta. (Foto: Gabriel Hartanto)

Penulis: Mihardo Saputro


JAKARTA, suaraumat.com – Indonesia merupakan negara dengan kultur budaya
dan sosial yang sangat beragam. Berbagai suku, budaya, agama, ras dan cara
berprilaku dalam bersosialisasi mewarnai kehidupan bertoleransi di negara
Indonesia. Namun kenyataan saat ini, mayoritas masyarakat Indonesia kehilangan
semangat toleransinya. Kasus kekerasan terhadap pemeluk agama dan tempat ibadah
belakangan ini marak terjadi di Tanah Air. Masyarakat pun resah, khususnya para
tokoh agama. Kekerasan ini jelas mencoreng wajah demokrasi Tanah Air. Bagaimana
kalangan muda Kristen menanggapi masalah ini?

Berikut wawancara suaraumat.com dengan Gembala
Komisi Pemuda dan Anak (KPA) GBI Mawar Saron Jakarta:

Terkait maraknya kasus-kasus intoleransi, sebenarnya fenomena apa yang
terjadi di Indonesia terkait toleransi?

Jika kita melihat ke belakang, dulu saat saya
sekolah masih ada upacara bendera dan penataran P4. Nah, sekarang adik-adik
kita tidak lagi mengalami hal itu. Jangan-jangan ini yang menjadi faktor
sehingga generasi muda kita sekarang ini lebih memikirkan diri sendiri dari
pada memikirkan orang lain dalam koridor kebangsaan. Kemudian juga, dengan
perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, kita yang muda-muda ini
punya kelemahan dalam hal menerima informasi tanpa mengoreksi sehingga mudah
terprovokasi.

Apa yang harus dilakukan oleh gereja terkait masalah ini?



Jika dikerucutkan, ada tiga hal yang bisa
dilakukan oleh gembala-gembala jemaat. Pertama, gembala jemaat harus
mengkhotbahkan pesan-pesan kebangsaan kepada jemaatnya. Gembala jemaat jangan
alergi menyampaikan pesan-pesan nasionalisme dalam khotbanya.

Ke dua, harus ada komunikasi lintas gereja. Hal
ini bisa dilakukan dengan cara membuka forum dialog antar umat Kristen di tingkat
kelurahan, kecamatan, bahkan provinsi, sehingga anak-anak muda Kristen bisa
bertukar pikiran mengenai tugas dan tanggung jawab mereka sebagai warga negara.

Ke tiga adalah membangun komunikasi antar rumah
ibadah. Misalnya antara gereja dengan masjid, pura, ataupun vihara. Komunikasi
adalah hal yang penting untuk membangun persatuan dan kesatuan. Apalagi dengan
adanya teknologi  komunikasi, khususnya
media sosial, jadi kita bisa menggunakannya 
untuk kampanye toleransi beragama.

Apa yang harus dilakukan jika kita mengalami kasus intoleransi?

Indonesia sangat diberkati dengan kultur
kebudayaan dimana ada yang namanya kearifan lokal. Jadi, sebagai orang Kristen kita
harus bisa menjalin hubungan dan membangun kepercayaan antar pemeluk agama
serta tokoh-tokoh agama di sekitar kita. Ada pepatah mengatakan, “Tak kenal,
maka tak saya.” Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen, kita harus pandai
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar agar terhindar dari masalah-masalah
tersebut.

Saya optimis, jika komunikasi antar pemeluk
agama terjalin dengan baik maka rasa percaya itu ada. Jika sudah ada rasa
saling percaya, maka toleransi di Indonesia bisa tercipta.

***

* Penulis adalah Redaktur Pelaksana Tabloid Suara Umat


Berikut video wawancara MUKI Channel dengan Pdt. Yohannes Nahuway:


About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content