February 29, 2024
Saya mendukung tenun ikat Sumba Timur Nusa Tenggara Timur agar ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (Intangible Cultural Heritage of Indonesia) UNESCO. (Foto: GBM)

Oleh: Giorgio Babo Moggi

SUARAUMAT.com – Memasuki Weekuri Sumba Timur kami tak menjumpai anak-anak. Hanyalah orang dewasa yang membuka lapak dagangan tenunan dan aksesoris khas Sumba.

Kami berjalan terus melewati para pedagang. Pada track yang terbuat dari semen. Menuju bibir danau yang berbatasan dengan laut. 

Weekuri memang berubah. Didandan rapi dan alami. Memanjakan pengunjung saat mengitari danau. Jembatan kayu membentang di atas batu karang yang tajam. Menghubungkan dua sisi danau.

Saya membuang pandangan ke tangga yang menuruni danau. Anak-anak berenang. Mereka turun naik tebing lalu melompat ke danau. Tingkah mereka mengingatkan masa kecilku di kampung. Saya mengabadikan moment itu dari kejauhan.

Lain lagi di Pantai Mandorak. Anak-anak menyambut kedatangan kami. Jumlah mereka hampir sepuluh orang. Keramahan mereka menjadi alasan saya untuk menyapa mereka lebih dekat dan mengajak foto bersama.

Satu per satu merapat dengan saya yang bersandar pada tembok batu setengah tinggi orang dewasa. Sebagian mereka berdiri dan duduk di pagar batu. 

Salah seorang anak melingkari leherku dengan salendang kecil. Satu lagi meletakannya di atas kepalaku. Saya biarkan dengan tingkah mereka.  Usai foto mereka menawarkan salendang itu seharga lima puluh ribu rupiah.

Kami berjalan ke arah pantai. Anak-anak ini terus mengikuti langkah kami. Saya mengajak mereka foto dengan latar garis pantai yang unik. Laut yang biru, bersih dan menawan.

Lalu di antara mereka, menawarkan diri sebagai fotografer. Lalu memotret salah seorang teman seperjalanan. Hingga kami meninggalkan Mandorak, gerombolan anak ini terus membuntuti kami.

Tak berbeda jauh dengan anak-anak di kampung adat Ratenggaro. Saat saya keluar dari kampung menuju pantai, mereka ramai-ramai berteriak, “Mister, mister.”

Saya hanya tersenyum dan mengajak mereka foto bersama. Dengan akrabnya, mereka merapat. Terasa seperti sudah sangat dekat. Saya mengucapkan “thank you”. Jawab mereka “tenk yu, tenk yu” dengan dialek Sumba yang kental.

Mungkin kehadiran saya di kampung itu menjadi tontonan yang unik. Mereka mengikuti saya hingga bibir pantai. Mereka tak berhenti-henti bertanya, “Kenapa kakinya?”.

Lagi, saya tersenyum dan menunjukkan bahwa fisik tak boleh mengalah dan pasrah dengan keadaan. Ayo dukung tenun ikat Sumba Timur Nusa Tenggara Timur  Indonesia. #TenunikatSumbagoestoUNESCO #BanggaBagiandariTenunSumbaNTT (*)

Editor: Konradus Pfedhu

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to content