Juni 20, 2024

Dialektika Politik Indonesia, Surat Terbuka untuk Para Pejuang Demokrasi
Bendera Merah Putih. [Foto: Freepik]


Oleh: Dr. Merphin Panjaitan, M.Si

SUARAUMAT.com – Saudaraku, hari ini, Kamis 30 Juni 2022, saya lanjutkan dengan benturan antara Kolonialisme Hindia Belanda dengan Nasionalisme Indonesia. 

Tesa politiknya, Kolonialisme Hindia Belanda yang dijalankan oleh Kerajaan Belanda; dan antitesa politiknya, Nasionalisme Indonesia yang dijalankan oleh Kaum Pergerakan Nasional Indonesia.

Kolonialisme Belanda VS Nasionalisme Indonesia. Nusantara produksi rempah-rempah yang sangat dibutuhkan dunia, termasuk Eropa. Akhir abad ke-15, Portugal dan Spanyol datang ke Nusantara. Dimulai dengan beli rempah-rempah, kemudian dilanjutkan dengan monopoli. Masyarakat Nusantara mengadakan perlawanan.

Kemudian VOC Belanda datang pada abad ke-16, mulai dengan berdagang dan membeli rempah-rempah, dilanjutkan dengan penjajahan. Pada abad ke-19, berbagai lembaga Zending di Eropa, seperti RMG dari Jerman dan NZV dari Belanda  mengirim para Penginjilnya ke Indonesia. Para Penginjil ini kerja di pedalaman. Sebagian penduduk Nusantara menjadi Kristen Protestan dan Katolik.

Pada abad ke-19 dunia mengalami abad Zending yang digerakkan dari Eropa; saya perkirakan pada abad ke-21 ini, dunia akan mengalami lagi abad Zending yang digerakkan dari Asia, termasuk Indonesia.

Kolonialisme Belanda sangat melecehkan masyarakat Nusantara. Memaksa penduduk mengikuti semua kehendak penjajah. Mereka memeras masyarakat; karena mereka adalah penjajah, dan kita bangsa jajahan.

Pada awalnya raja-raja lokal dan masyarakat melawan, tetapi kalah. Wilayah kolonisasi semakin luas. Tetapi, penjajah Belanda ini melakukan suatu kekeliruan fatal, pada waktu mereka mulai mengadakan sekolah. 

Banyak warga masyarakat Nusantara menjadi pintar, dan menyerap sebagian unsur peradaban Barat, seperti konsep negara bangsa, nasionalisme, demokrasi, organisasi modern, dll.

Perjumpaan peradaban Barat dengan masyarakat Nusantara menghasilkan kaum pergerakan Nasional; dan juga Nasionalisme Indonesia; yang menyadarkan masyarakat Indonesia, bahwa mereka adalah bangsa Indonesia, berjuang menjadi bangsa merdeka di Tanah Air Indonesia, menggunakan Bahasa Indonesia, dan selanjutnya mendirikan negara merdeka, dan mengusir Belanda dari Indonesia. Kesepakatan ini dibuat dalam Kongres Pemuda II, yang kita sebut Sumpah Pemuda.

Dialektika Politik Indonesia, Surat Terbuka untuk Para Pejuang Demokrasi
Dr. Merphin Panjaitan, M.Si. [Foto: Suaraumat.com/Konradus Pedhu]


Pada 17 Agustus 1945, di Nusantara yang mengalami kekosongan kekuasaan politik, Soekarno-Hatta mewakili Bangsa Indonesia, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dan pada 18 Agustus 1945, dilanjutkan dengan pendirian NKRI, dengan menetapkan UUD 1945, memilih Soekarno menjadi Presiden RI dan Hatta menjadi Wakil Presiden RI. 

Dari paparan ini: Tesa Politiknya Penjajahan Hindia Belanda yang dijalankan Kerajaan Belanda; AntiTesa Politiknya Perjuangan Kemerdekaan Indonesia yang dijalankan oleh Rakyat Indonesia; dan Sintesa Politiknya negara-bangsa Republik Indonesia.

Demikian surat terbuka untuk para pejuang demokrasi di tanah air dalam bentuk dialektika politik yang membawa Indonesia menjadi bangsa yang besar di antara bangsa-bangsa di dunia. 

Editor: Konrad

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content