February 25, 2024

PNIB Politik identitas ancaman serius Kebhinekaan Indonesia harus ditolak tanpa koma


Konrad Kun – SuaraumatNews

SUARAUMAT.com – Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) AR. Waluyo Wasis Nugroho atau yang akrab dengan sapaan Gus Wal mengomentari trending topic di medsos soal politik identitas.

Menurutnya, rakyat Indonesia sudah sama-sama tahu dan jelas melihat kelompok atau pihak mana saja dan siapa saja yang dalam kurun waktu 7-8 tahun ini selalu menggunakan politik identitas demi ambisi merebut kekuasaan.

“Mereka-mereka itu eks ormas haram terlarang FPI, HTI, NII, dengan ideologi khilafahnya yang anti-Pancasila, dan juga yang berhimpun dalam wadah PA 212, GNPF, dan sejenisnya. Mereka yang terang benderang menjadi ‘kuda tunggangan’ Anies Baswedan untuk upayanya nyapres di 2024. Jelas sekali terlihat. Tak dipungkiri,” ucap Gus Wal.

Karena itu PNIB giat menggelorakan semangat Merah Putih di seluruh penjuru Negeri dan Bumikan Pancasila.

“Tolak Khilafah! Lawan Politik Identitas seperti Anies Baswedan,” tegas Gus Wal. 

Gus Wal sangat concern dengan masifnya upaya-upaya kelompok yang ia sebut sebagai ‘sarabptigenah’ yang akan memecah belah masyarakat dan mengadu domba anak bangsa.

“Awas khilafah bangkit. Ingin adu domba anak bangsa dengan SARA,” ujarnya.

“Jangan sampai terkecoh! Bumikan Pancasila. Kibarkan dan gelorakan merah putih. Tolak politik identitas,” Gus Wal mewanti-wanti.

“Demi keutuhan dan keselamatan rakyat dan bangsa Indonesia,” jelasnya.

Gus Wal menerangkan, untuk itu bangsa ini harus bersatu menolak khilafah dan politik identitas.

“Bangsa ini tidak boleh tercerai-berai hanya karena ulah sekelompok orang tertentu yang sudah terang-terangan menyatakan diri bahwa dasar mereka adalah menolak Pancasila, dengan menggantikan paham-paham tertentu yang berbalut agama,” tutur Gus Wal.

Situasi ini, Gus Wal berpendapat, tak lepas dari pengaruh yang nyata dari para dai provokator seperti Bachtiar Nasir, Sugik Nur, Yusuf Martak, Novel Bamukmin, dan lain sebagainya yang sudah jelas apa yang mereka propagandakan. Hanya membuat gaduh di publik.

Ditambah lagi dengan buzzer-buzzerRp seperti Roy Suryo, Rocky Gerung, Fadli Zon, yang mengompori masyarakat dengan isu-isu murahan dan receh tanpa substantif, selalu mengaburkan hal-hal positif dari pemerintah Indonesia saat ini yang semakin dihormati dan dipandang tinggi oleh dunia atas berbagai pencapaian keberhasilannya.

Seperti Bank Dunia mengakui bahwa seluruh dunia akan resesi namun disebutkan KECUALI Indonesia. 

Indonesia berhasil menjaga tingkat inflasi di saat banyak negara di dunia mengalami lonjakan tinggi inflasi harga. 

Sementara WHO juga mengakui Indonesia memimpin dalam mengatasi pandemi covid-19. Terlebih Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi menjadi Presidensi G20.

“Roy Suryo, Fadli Zon, Rocky Gerung dll. hanya hobi nyinyir tanpa solusi. Kritik barbar tanpa memberi solusi ibarat orang ayan atau orang gila makan sabun,” ujar Gus Wal geram.

Karena itulah Gus Wal berpesan kepada para pengasong khilafah FPI HTI NII Khilafatul Muslimin, JI, JAD dan sebagainya agar jangan sampai membuat Indonesia hancur seperti di Suriah karena perang terjadi akibat politik identitas yang tajam.
PNIB Politik identitas ancaman serius Kebhinekaan Indonesia harus ditolak tanpa koma

“Jangan khilafahkan Indonesia. Jangan Suriahkan Indonesia,” tegas Gus Wal.


Atas semangat untuk melawan para pengasong khilafah itu, PNIB terus menggelar Kirab Merah Putih Menolak Khilafah Sampai Kiamat, yang telah dilaksanakan di Yogyakarta dan Jombang, menyusul berbagai kota lainnya.

“Jika Presiden Jokowi berani mengibarkan merah putih untuk damaikan negara lain yang sedang berperang, maka demi tegaknya Pancasila dan keutuhan juga keselamatan bangsa dan persatuan Indonesia kita harus berani kibarkan merah putih untuk melawan khilafah radikalisme terorisme, politik identitas, dai provokator dan bahaya laten FPI HTI NII, Khilafatul Muslimin,” terang Gus Wal.

Tak luput Gus Wal menyampaikan kepada masyarakat agar mewaspadai, “Jaga kampung desa dari politik identitas, khilafah radikalisme terorisme, salafi wahabi dan bahaya laten FPI HTI NII.”

“Jaga Bangsa, Bela Negara, Lestarikan Pancasila, Merawat Tradisi Budaya Nusantara.”
(sum/kn)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to content