Juni 20, 2024

Coach Addie Pemuda Terdidik dan Religius Harus Konsisten Berikan Edukasi Integritas Di Medsos


Penulis:
Konrad Kun

CIANJUR, JAWA BARAT – Beragam peristiwa banyak terjadi di dunia nyata dan diangkat ke media sosial (MEDSOS), bahkan hampir semua stasiun televisi memuat tayangan viral yang dibuat oleh netizen. 

Kondisi inipun tidak luput memunculkan masalah baru. Hal yang tidak perlu ditayangkan menjadi sering ditayangkan hanya demi mengundang decak kagum dan bahan tertawaan. 

Adanya ustaz-ustazah muda yang menjadi pengajar di banyak pondok pesantren diharapkan mampu memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana membuat konten yang layak dan tidak layak dibagikan di media sosial. 

Hal ini dikatakan Dai Motivator dan Profesional Life Coach, Adi Supriadi, MM., saat setelah memberikan training kepada peserta Raker Pondok Pesantren Husnul Khotimah Cipanas, Cianjur yang diselenggarakan dari tanggal 12 sampai 14 Juli 2022. 

“Saat ini, media sosial seperti jadi rujukan informasi yang punya pengaruh besar bagi masyarakat, bukti nyatanya televisi pun mengambil konten yang viral dari media sosial,” ujarnya.

Dia menambahkan, saat banyak anak muda yang lulusan sarjana dan penghafal Qur’an dapat memberikan edukasi kepada generasi muda untuk membuat konten yang mengedukasi, terutama edukasi yang berkaitan dengan integritas baik di bidang ekonomi, politik dan budaya.  

Coach Addie sapaan akrab pria kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat ini  juga mengatakan, bahwa selain peran serta generasi muda, peran perempuan juga dibutuhkan dalam mengedukasi emak-emak khususnya yang memang saat ini banyak mengonsumi konten dari media sosial. 

“Emak-emak hari ini berdasarkan hasil survei saya banyak menggunakan media sosial khususnya Youtube untuk mendapatkan informasi,” kata Addie.

Ia mengambil contoh salah seorang anggota dewan yang membagi daging kurban sebelum hari raya. 

“Fatalnya seperti tayangan anggota DPR yang memotong hewan kurban dan membagikan daging kurban sebelum hari Raya Iduladha. Dengan alasan kaum miskin bisa menikmati daging kurban sebelum Hari Raya Idul Adha, dan ini dimakan mentah-mentah oleh emak-emak padahal secara syariat itu salah,” ungkapnya.

Dia mengatakan itu salah satu contoh konten yang kelihatannya seperti benar padahal tidak benar. Hanya karena yang melakukannya publik figur dan kebanyakan emak-emak yang menonton tayangan Youtubenya membuatnya diikuti padahal salah secara syariat Islam salah.

Coach Addie Pemuda Terdidik dan Religius Harus Konsisten Berikan Edukasi Integritas Di Medsos


Diketahui yang dimaksud Coach Addie adalah tayangan Youtube Dedi Mulyadi Anggota DPR RI sebagai contoh.  

Direktur Eksekutif Asosiasi Praktisi HR Indonesia (ASPHRI) ini berharap agar banyak konten-konten yang benar bukan hanya benar secara sosial atau subyektif dari kreator tetapi utamanya dari hukum Islam tidak boleh ditabrak, Baik itu konsistensi perbuatan bukan jati diri.  

“Menjadi baik itu bukan jati diri, bukan identitas yang harus diakui orang lain, karena hakikatnya menjadi baik adalah perbuatan yang terus menerus dilakukan tanpa harus berharap pengakuan sebagai orang baik, pungkasnya.

(sum/kn)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content