Juni 20, 2024

Nani Aoh, Mantan Bupati Ngada dan Nagekeo Kembali ke Rumah Bapa Surgawi
Nani Aoh. [Dok.Istimewa]

DEPOK, SUARAUMAT.com Masyarakat Kabupaten Ngada dan Nagekeo Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) Sabtu, 30 Juli 2022 berduka atas meninggalnya pemimpin terbaik mereka, Yohanes Samping Aoh di usia 81 tahun.

Almarhum yang akrab disapa Nani Aoh meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis di Rumah Sakit (RS) Hermina Depok, Jawa Barat.

Jenazah almarhum disemayamkan di RS Karolus, Jakarta, dan akan diterbangkan ke Nagekeo-Flores pada Senin (1/8/22).

Nani Aoh adalah satu-satunya bupati yang fenomenal di masanya, baik saat memimpin Ngada maupun Nagekeo.

Beliau adalah sosok bupati dengan karakter kepemimpinan yang kuat, populis, orator politik yang handal, pekerja sejati, birokrat ulet, diplomat sejati, juga komunikatif dan humoris.

Saat menjabat Bupati Ngada, Nani Aoh nyaris memindahkan ibu kota Ngada dari Bajawa ke Mbay, sesuai instruksi PP No. 65 Tahun 1998. Nani Aoh sempat berkantor dari Mbay (gedung DPRD) selama 3 hari seminggu.

Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo sekarang, saat itu oleh pemerintah pusat, ditetapkan sebagai kawasan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet), ditangani oleh Gubernur NTT selaku Ketua Kapet Mbay. Sayangnya program Kapet gagal, karena Gubernur saat itu tidak serius, tidak fokus. Nani Aoh selaku Bupati Ngada tidak bisa berbuat banyak karena tidak memiliki kewenangan apa pun atas program Kapet.

Nani juga geram melihat pembangunan ekonomi dan investasi di Mbay terhambat masalah lahan. Menurut dia, Gubernur dan timnya belum memiliki program strategis untuk pengembangan Kapet Mbay.

Setelah berhenti memimpin Ngada pada tahun 2000, Nani Aoh memilih pensiun dan tinggal di Jakarta. Pada tahun 2006, Nagekeo berpisah dari Ngada, dan masyarakat Nagekeo ‘memanggil’ Nani Aoh untuk memimpin Nagekeo sebagai Bupati, meskipun Nani Aoh sudah berusia 67 tahun, dia relatif tua. Di Kupang, gubernur dan bupati menyebut Nani Aoh ‘senior’.

Nani Aoh juga terpilih sebagai Bupati Nagekeo pertama periode 2008-2013. Elias Djo adalah Pj Bupati Nagekeo (2006-2008), kemudian Elias Djo melanjutkan sebagai Bupati Nagekeo periode 2013-2018. Setelah tahun 2018, Bupati Nagekeo dijabat oleh dr Johanes Don Bosco Do.

Nani Aoh dan Elias Djo telah meletakkan dasar bagi pembangunan Kabupaten Nagekeo. Nani Aoh melakukan banyak sentuhan kreatif untuk membangun Nagekeo, negeri sejuta Peo. Visi mereka bersama mendiang wakil bupati Paulus Kadju adalah menjadikan Nagekeo sebagai kabupaten kreatif.

Menurut Nani Aoh, tujuan dibangunnya Nagekeo adalah bagaimana mewujudkan masyarakat sejahtera yang dilandasi rasa kebersamaan dan kesetiakawanan. Dengan menjunjung tinggi kebersamaan maka cita-cita awal perjuangan akan terwujud karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak cepat melupakan jasa para pendahulunya.

Dan motto Nani Aoh untuk pembangunan di Nagekeo adalah “Ingatkan Yang Lupakan, Benahi Yang Tercecer, Jemput Yang Tertinggal”, dengan strategi utama pembangunan untuk mewujudkan Kabupaten Nagekeo yang berdaya saing dan produktif.

Jika Elias Djo menyiapkan infrastruktur dan kontestasi pemilihan bupati pertama, Nani Aoh memantapkan langkah awal pembangunan Nagekeo.

Masyarakat Nagekeo mengapresiasi kerja keras Nani Aoh. Selain itu masih segar dalam ingatan kita, kebesaran hati almarhum dalam menanggung banyak kasus korupsi di zamannya, akibat lemahnya pengawasan seorang pemimpin.

Sebagai pejabat publik harus siap menanggung risiko setiap keputusan atau kebijakan politik dan kebijakan publik yang melanggar aturan dan undang-undang.

(enbeindonesia.com)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content