Juni 20, 2024

 

Pimpinan Pondok Pesantren Cadangpanggan Buya Syakur saat berdialog dengan Suaraumat.com 

SUARAUMAT.com – Pada hakekatnya keharmonisan merupakan dambaan dalam
kehidupan manusia, apalagi dalam berbangsa dan bernegara. Namun seberapa jauh
keharmonisan itu bisa diwujudkan dan bagaimana cara mewujudkannya? masih
menjadi pertanyaan mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagi
Bangsa Indonesia yang memiliki 17.508 pulau, dikenal memiliki beragam tradisi,
bahasa, kebudayaan, ras, etnis, agama dan keyakinan.

Meskipun multikultural ini merupakan suatu postulat yang
memiliki nilai positif dimata dunia, namun di sisi lain, di dalam keanekaragaman
dan multi suku, bahasa, adat istiadat dan agama, juga mengandung kerawanan-kerawanan
yang dapat menimbulkan konflik-konflik kepentingan antar kelompok, antar etnis,
antar agama dan antar wilayah.

Menyikapi permasalahan di atas Suaraumat.com coba mengupasnya
melalui Dialog Pagi bersama Buya Syakur Pimpinan Pondok Pesantren Cadangpanggan,
Indramayu, Jawa Barat.

Apa mimpi Buya Syakur
dalam hal kerukunan umat di Indonesia?

Dalam hal kerukunan Umat, saya percaya bahwa sampai saat ini
saya sudah tidak lagi bermimpi, tapi saya sudah melangkah untuk mewujudkan
kerukunan umat beragama di negeri tercinta, Indonesia. Karena bagaimanapun juga
Negara Indonesia ini adalah Negara yang terhitung baru jika dibandingkan dengan
Negara-negara di Eropa, yaitu terlahir tahun 1945. Namun satu hal yang perlu
kita ingat bahwa Bangsa Indonesia bukan didirikan oleh kelompok atau golongan tertentu
saja, tapi didirikan bersama-sama dengan perbedaan suku, agama dan budaya, jadi
Indonesia adalah milik kita bersama. Ibarat kita membuat perusahaan, kita
bangun bersama, masing-masing punya deviden, kita rapat bersama kemudian kita
berfikir bersama agar ke depan Indonesia semakin maju dan makmur.

Kendala apa yang
menghambat terciptanya kerukunan menurut Buya?

Dalam perjalanannya ada pesengketaan antara kita. Selain
hambatan sosiologis, kepentingan politik, ekonomi, sosial, budaya dan banyak
lagi lainnya juga menjadi faktor kenapa kita lambat sekali berjalan. Menurut
saya, kerukunan itu sebenarnya adanya di dalam hati kita. Memang, kita kerap melihat
simbol-simbol tempat ibadah yang berdiri berdampingan, itu tidak masalah, itu
bagus. Tapi yang terpenting adalah kedekatan di dalam hati kita. Jadi spiritnya
yang perlu berdekatan, bukan bangunan fisik. Dan kedekatan seperti ini perlu
kita bangun secara bersama-sama, jangan hanya satu pihak saja.

Menurut Buya,
bagaimana caranya agar Indonesia bisa menjadi ‘Rumah” yang harmonis bagi
seluruh umat?

Landasan negara kita sudah jelas yaitu pancasila, jadi
Indonesia itu bukan negara yang berdasarkan atas agama, tetapi negara berTuhan,
jadi jelas kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Selain itu saya
juga tidak tertarik dengan isu toleransi, karena menurut saya toleransi itu hanya
bersifat sementara yang ujung-ujungnya menciptakan tawar-menawar antara
mayoritas dan minoritas sehingga minoritas berasa berhutang budi kepada
mayoritas. Saya tidak ingin kita berhutang budi kepada siapapun kecuali kepada
Tuhan. Jadi seharusnya bukan toleransi, tapi kesetaraan. Hukum sudah ada,
undang-undang sudah ada, tinggal kita implementasikan. Jadi tidak ada mayoritas
dan minoritas. Semua warga Negara Indonesia punya hak dan kewajiban yang sama.

Terakhir, apa pesan
Buya buat seluruh masyarakat Indonesia?

Pesan saya hanya satu, agama saya menyuruh saya untuk
mencintai siapapun. Jadi kita harus mencintai dan menghormati manusia
sebagaimana perintah Tuhan dan tidak lagi dikait-kaitkan dengan agama, suku,
ras maupun budaya. Karena kemanusiaan yang saya yakini adalah kemanusiaan yang
universal. Ketika kita mau menolong orang, jangan lagi kita tanya apa agamanya.
Mulailah belajar untuk menghormatilah manusia sebagai manusia, terlapas apapun
agamanya, apapun sukunya dan apapun budayanya.

(GH/Sum)

Untuk video wawancara silahkan klik tautan di bawah ini:

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content