March 3, 2024

Jalan Sempit Menuju Moderasi Beragama
Jalan sempit menuju moderasi beragama, sebuah kisah nyata pengalaman hidup di tengah keberagaman. [freepik/suaraumat.com]

Penulis: John Lobo, Penggagas Gerakan Katakan Dengan Buku

SUARAUMAT.com – Kisah bermula dari usai lulus seleksi rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada Februari beberapa tahun silam.

Bersama 250 teman seangkatan kami mendapatkan perintah untuk mulai melaksanakan tugas di satuan kerja masing-masing. 

Sebelumnya memang ada tawaran dari Dinas Pendidikan Kota Kediri kepada CPNS formasi guru yang sudah mengajar untuk mengajukan permohonan agar kembali mengabdi ke sekolah asal. 

Peluang tersebut tidak saya manfaatkan karena harus memberikan kesempatan kepada Pak Handoko yang sebelumnya menganggur, untuk mengajar di SMA Katolik Santo (St.) Augustinus.

SMA Katolik Santo Augustinus adalah Sekolah Menengah Atas yang didirikan pada tahun 1954 di Kota Kediri, Jawa Timur. 

Sekolah ini milik Yayasan Yohanes Gabriel. 

Letaknya bersebelahan dengan SMA Negeri 1 Kediri dan Gereja Katolik St. Vincentius A Paulo. 

Selama 6 tahun (2000 – 2006) saya mengabdikan diri sebagai Guru Agama Katolik di lembaga pendidikan yang memiliki motto “Bekerja tanpa perintah disiplin tanpa diawasi” tersebut.

Motivasi  untuk tetap mengajar di SMA Negeri 3 dan tidak mengajukan permohonan untuk kembali ke SMAK St. Augustinus lebih pada alasan kemanusiaan. 

Sebagai calon abdi negara saya harus patuh pada regulasi untuk mengabdi di sekolah negeri dengan segala konsekwensinya, terutama sebagai kelompok kecil diantara ribuan siswa dan tenaga pendidik serta karyawan yang beragama Islam dan keyakinan lainnya.

Tepat tanggal 31 Oktober 2006 saya bersama Pak Misbahul Ibad (Matematika), Pak Arif (Fisika), Bu Yuli Fitriatul (Fisika) dan Bu Denis Agustin (Biologi) menerima surat penghadapan CPNS yang ditandatangani oleh Sekretaris Daerah Kota Kediri, Bapak H.M Zaini. 

Dua puluh satu hari kemudian di bulan November kami berempat mulai melaksanakan tugas sebagai guru di sekolah yang berada di Jalan Mauni Kecamatan Pesantren.

Hasil perenungan

Injil Matius menjadi inspiratif perenungan jalan sempit menuju moderasi beragama.
Jalan sempit menuju moderasi beragama hasil perenungan Injil Matius 7:14. [ilustrasi freepik/suaraumat.com]


Jalan sempit menuju moderasi beragama merupakan hasil perenungan inspiratif dari Injil Matius 7:14 yang berbunyi 

Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya”.

Ayat ini memberikan pesan yang kuat setelah melewati rangkaian pengalaman tentang berbagai cara hidup intoleransi yang saya terima. 

Konsep Moderasi Beragama yang saya hadirkan pada ruang publik baik tulisan maupun perilaku hidup bermasyarakat adalah bentuk budaya tanding (Counter Culture) terhadap kondisi, dimana pernah ada oknum tertentu dari kelompok agama mayoritas yang secara spesifik melarang kami sekeluarga untuk menjalankan kewajiban agama dan mempertanyakan kehadiran saya sebagai guru Agama Katolik.

Masih tersimpan rapi di benak saya setelah seminggu lebih menjalankan tugas sebagai Guru Agama Katolik di SMA Negeri 3. 

Kala itu ada dua oknum pendidik (namanya dirahasiakan) sempat nyeletuk di ruang guru “Adakah agenda tersembunyi dari pemerintah dengan kehadiran guru Agama Katolik di sekolah ini”?. 

Sebagai guru baru, saya hanya membalas dengan senyuman, tidak berani menjawabnya. 

Bagi yang belum siap mungkin nyalinya bisa ciut ketika harus berhadapan dengan kejadian seperti ini.

Andaikan pascamendengar ujaran spontan itu saya menjaga jarak dan relasi pergaulan, tentu akan berdampak tidak baik terutama kesan dan penilaian mereka terhadap saya sebagai sosok yang harus menghadirkan wajah Gereja dihadapan sesama. 

Sikap respek tetap ditunjukkan ketika berjumpa dalam situasi formal maupun saat santai baik, di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. 

Berkat respons baik yang diberikan mereka berdua tetap  membangun hubungan yang harmonis hingga salah satunya pensiun dan saya mutasi ke Mojokerto.

Kisah koran Kompas

Kejadian berikutnya yang saya beri makna sebagai jalan sempit menuju sikap hidup berimbang dalam berelasi dengan sesama yang berbeda keyakinan adalah reaksi yang muncul ketika koran Kompas langganan dikirim lewat alamat sekolah.

Sejak akhir tahun 2000 dengan segala keterbatasan finansial sebagai guru honor di sekolah swasta saya memutuskan untuk berlangganan koran Kompas. 

Ketika pindah alamat oleh loper, koran langganan itu dikirim ke Jalan Mauni Kecamatan Pesantren.

Suatu pagi ketika koran tersebut diletakkan pada meja kerja saya di ruang guru, ada kalimat yang spontan diucapkan “Koran orang kafir kok dikirim ke sekolah ini” ?.  

Sembari melemparkan senyum, saya mencoba memberanikan diri untuk menjawab “Itu koran Kompas milik saya bapak, maaf sejak beberapa tahun saya berlangganan karena isinya bagus untuk meningkatkan kapasitas saya sebagai guru”.

Mendengar jawaban tersebut beliau terdiam dan mengalihkan diri dengan aktivitas lain di meja kerjanya. 

Ada kisah menarik tentang kehadiran koran Kompas di SMA Negeri 3. 

Ketika mengetahui bahwa saya berlangganan, Kepala Sekolah saat ini, Pak A. Wahid Anshory pun menyampaikan dalam sebuah rapat koordinasi bahwa lembaga akan berlangganan koran Kompas dan Jawa Pos mengingat dua media mainstream tersebut merupakan sarana informasi dan edukasi yang baik bagi dunia pendidikan dibandingkan dengan media lainnya. 

Setelah menikah pada bulan Mei 2004 bersama istri tercinta Ludgardis sepakat untuk kontrak rumah di Kelurahan Meri.

Kami memilih lokasi tersebut karena dekat terminal Kertajaya sehingga memudahkan aktivitas saya untuk berangkat kerja ke Kediri. 

Selama satu tahun kami menempati rumah kontrakan yang berada di sebelah Timur SMPN 5 tersebut. 

Sebagai pengantin baru kesempatan kami untuk kumpul bersama hanya pada akhir pekan, selanjutnya sejak Senin hingga Sabtu saya harus meninggalkan istriku sendirian di rumah. 

Mengingat istriku tidak bisa mengendarai sepeda motor dan harus mengeluarkan ongkos tambahan untuk transportasi ketika hendak berangkat maupun pulang kerja di RS Reksa Waluya kamipun pindah ke kontrakan yang baru di Kranggan.

Ketika hari pertama memasuki rumah kontrakan yang baru,  sang pemilik datang menghampiri dan menyampaikan bahwa

 “Selama menjadi penghuni di rumah ini, tidak boleh sembahyang, doa bersama, atau menjalankan aktivitas agama lainnya yang melibatkan banyak orang”. 

Hanya satu yang diizinkan yaitu mananam ari-ari kedua putra kami, Clay dan Diego. 

Selama 4 tahun kegiatan keagamaan yang kami lakukan adalah berdoa bersama istri, adik Octa dan anak-anak yang masih kecil juga setiap hari Sabtu sore atau Minggu pagi mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja Katolik yang berada di jalan Pemuda. 

Pernah ada tetangga yang beragama Kristen sama-sama kontrak rumah yang terletak di belakang melakukan ibadah bersama, setelah itu langsung ditegur oleh warga setempat. 

Beberapa umat Katolik dari lingkungan Santo Antonius Padua terutama Pak Poly yang juga ketua lingkungan pernah datang mengunjungi kami sembari mengajak untuk ikut doa dan menghadiri kegiatan lainnya. 

Ada perasaan tidak enak dan sungkan ketika kami harus menolak dan menyatakan ketidaksanggupan untuk bergabung dengan alasan tidak diizinkannya rumah tersebut untuk doa bersama. 

Tidak mungkin kami hanya pergi berdoa di rumah umat lain sementara di tempat kediaman kami sendiri tidak pernah mengadakan doa bersama dalam satu lingkungan.

Pengalaman perjalanan hidup sosial dan rohani keluarga kami saat ini memang diawali dengan perjalanan dan perjuangan di jalan-jalan sempit. 

Andaikan boleh memilih, tentu saja kami memilih jalan yang lurus dan lapang. 

Namun setelah mengarungi hidup perkawinan hampir 19 tahun, kami menyadari bahwa lebih baik melewati jalan yang sempit, terjal, dan sulit, bahkan menukik dan mendaki penuh tanjakan, asal mencapai finish di landasan yang benar.

Jalan sempit menuju moderasi beragama sebuah catatan dalam kisah nyata seorang guru Agama Katolik
John Lobo (kiri) bersama Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Kota Mojokerto Drs. Sugeng Wibawa. [ist/suaraumat.com]


Perjalanan di jalan yang sempit tidak menawarkan banyak alternatif, namun ujungnya mengerucut pada keharmonisan.

Hidup ini tidak mudah. 

Apalagi berhadapan dengan individu yang masih mempersoalkan identitas terutama menyangkut agama dan keyakinan yang dianut. 

Kristalisasi pengalaman yang dimaknai sebagai jalan sempit itu telah membawa kami sekeluarga untuk mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan moral dan watak sebagai ekspresi sikap keagamaan secara individu atau penganut agama Katolik di tengah keberagaman dan kebhinnekaan.

Mojokerto, 28 Januari 2023. *** 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to content