March 3, 2024

Motivasi Dari GMRI dan Posko Negarawan Bersama Keluarga Mahasiswa Banten di Bogor Sekitarnya
Motivasi Dari GMRI dan Posko Negarawan Bersama Keluarga Mahasiswa Banten di Bogor Sekitarnya. [Dok. GMRI/Suaraumat.com]

SUARAUMAT.com Tour Kampus Dialog “Menyemai Pemimpin Bermental Spiritual”, bersama Wali Spiritual Indonesis Sri Eko Sriyanto Galgendu (Ketua Umum GMRI) dan Agus Prana Mulia dari Pranamulia Institute.

Acara ini dipandu oleh Prof. Yudhie Haryono dari Nusantara University, dialog bersama di Rumah Besar Keluarga Mahasiswa Banten, Jl Batuhulung No 20, Margajaya, Bogor Barat, hari Jum’at 3 Februari 2023.


Acara yang diselenggarakan atas kerja sama GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) Posko Negarawan dan KMB (Keluarga Mahasiswa Banten) sekitar 30-an orang ini ada juga yang tercatat sebagai alumni IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta yang kini telah diubah menjadi Universitas Islam Negeri Yogyakarta.


Sri Eko Sriyanto Galgendu yang dominan tampil sebagai motivator, menyebut acara serupa semacam “Pagelaran Jagat Agung Nusantara”, sehingga dia merasa  perlu untuk memapar watak dan karakter kepemimpinan yang layak disebut sebagai negarawan untuk melakukan perbaikan bagi Indonesia yang  sedang mengalami krisis multi dimensi sampai hari ini.


Karena itu, ungkapnya  Indonesia memerlukan sosok  pemimpin yang membumi, tidak membedakan pelayanan terhadap orang miskin dengan orang kaya, tandas Ketua Umum GMRI dan penggagas Posko Negarawan yang sudah banyak terbentuk di berbagai tempat dan daerah.


Ia mengibarat sosok seorang pemimpin itu seperti matahari yang mampu menerangi seluruh jagat, tanpa pilih kasih. 

Bila ibarat samudra, maka sosok seorang pemimpin yang memiliki muatan nilai spiritual akan senantiasa memberikan kasih sayangnya secara merata menyentuh seluruh jagat. 

Itu sebabnya nama-nama raja dan sultan di Nusantara ini dahulu disebut Pakubuwono, Pakualam, Mangkubumi, Hamengkubuwono dan seterusnya.


Harapan munculnya sosok-sosok para negarawan dari Indonesia sekarang agar dapat segera memulihkan kondisi dan situasi yang tidak menentu arahnya negeri kita. Karena hanya negarawan yang sejati tandasnya yang mampu membenahi negeri ini.


Begitulah urainya sosok seorang negarawan sejati, atau sosok pemimpin yang memiliki muatan nilai spiritual, sehingga tugas dan tanggung jawabnya dalam mengelola negara untuk bangsa menjadi bagian dari ibadah yang akan mendatangkan berkah bagi orang banyak.


Sejarah suku bangsa Nusantara yang terpenggal, karena hanya dipahami sebatas kemerdekaan bangsa Indonesia, maka sejumlah mata rantai yang hilang itu telah memangkas sejarah besar bangsa Nusantara yang besar dan berjaya pada masanya. Padahal, bangsa Indonesia jelas berasal dari suku bangsa Nusantara.


Agus Prana Mulja, mengurai kitab yang menegaskan nilai-nalai besar yang ada pada hari ini sesungguhnya juga bermula dari nilai-nilai yang diwariskan oleh masa lampau para leluhur kita. 

Sosok manusia pun kata Ki Guru Agus Prana Mulia, sebagai ahli manajemen sumber daya manusia, menganjurkan untuk tetap berpegang pada petuah para leluhur yang menekankan pada ikatan silih asah, silih asih dan silih asuh, sehingga nilai-nilai kemanusiaan sebagai makhluk yang paling mulia di muka bumi dapat terus terjaga.


Ibarat bumi dan langit, ujar pengasuh Pranamulia Institut yang berada dibawah Yayasan Rasaning Rasa, Bogor ini, maka keseimbangan antara bumi dan langit dapat terwujud secara ideal berimbang, tidak dominan dipengaruhi oleh bumi, tandasnya. 

Begitulah perwujudan yang ideal dari rohani dan jasmani manusia yang terbungkus oleh tiga lapisan jasmani (raga), nafsani (Sukma atau nyawa) dan rohani atau Atma.


Bahasa bumi yang ikut ditampilkan Wali Spiritual yang lebih cenderung memberi motivasi kepada mahasiswa dan mahasiswi asal Banten yang ada di Jawa Barat sekitarnya ini, justru menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta dialog yang bertajuk “Menyemai Pemimpin Bermental Spiritual”  ini. 

Dan menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, kisah kemampuan dia dapat berbahasa bumi —  yang juga disebut Prof. Ravik Karsidi sebagai bahasa langit, kemampuan berbahasa bumi itu ceritanya bermula saat masih tinggal di Solo tahun 1999. 

Lalu kemudian didorong pula oleh Gus Dur saat diminta untuk berdialog dengan arwah orang yang telah mati waktu ziarah ke Makam Hang Tuah di Malaysia. 

Atas dasar kemampuan berbahasa bumi itu pula, seseorang yang mampu berdialog dengan para leluhur dengan sendirinya pula akan memiliki kemampuan berbahasa bumi. Bahkan bisa membaca ayat-ayat diri yang dimiliki oleh setiap manusia . Atau bahkan, mampu pula membaca banyak hal yang tidak terlihat.


Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi yang hadir di Balai Pertemuan Asrama Keluarga Mahasiswa Banten, adanya kesepakatan untuk terus melakukan dialog secara berkala.

Dan setiap mahasiswa dan mahasiswi yang hadir akan berusaha membangun kelompok-kelompok kajian dan pendalaman tentang kesadaran serta pemahaman spiritual di tempat asalnya masing-masing dari berbagai pelosok Provinsi Banten.

Banten memiliki tradisi Islamis religius yang kuat, untuk ikut melakukan upaya percepatan dari kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual bagi segenap anak bangsa yang kelak akan mewarisi apa yang ada pada hari ini untuk bekal di hari depan. 

Tentu saja semua itu sangat diharap bisa lebih baik dan manusiawi dibanding dengan kondisi dan situasi Indonesia sekarang.


Dan ihrob, kata Ki. Guru Pranamulia Institut menambahkan, adalah semacam pakem penuntun dari cara hidup sederhana, termasuk dalam upaya memahami dan menghadapi banyak hal, ungkapnya tatkala  menjawab salah satu pertanyaan kritis dari seorang mahasiswa yang ingin memahami proses dan level untuk menandai tahapan dari laku spiritual yang telah dilakukan seseorang, misalnya. 

Namun menurut  Sri Eko Sriyanto Galgendu pemahaman manusia tentang Tuhan di negara maju, sangat berbeda tingkatannya dengan pemahamann manusia di negara berkembang.

Sehingga puja dan puji terhadap Tuhan karena perbuatan baik kepada sesama manusia yang dapat dilakukan tanpa pamrih. Demikian juga pada rasa takut berbuat jahat atau khianat.


Kesadaran dan pemahaman serupa itu sama halnya dalam menunaikan ibadah wajib itu,  sepatutnya tidak lagi dibatasi pemahaman sebagai sesuatu kewajiban, tetapi idealnya  sudah menjadi semacam suatu kebutuhan untuk kesejukan hati dan jiwa dalam kehidupan yang nyata. ***

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to content