February 29, 2024

Kyai Tunggul Wulung adalah seorang tokoh legendaris yang hidup di hati orang-orang di kota Jepara, Kudus, Pati, Mojowarno, Malang dan beberapa kota lainnya.  Di lingkungan jemaat Kristen di daerah sekitar Gunung Muria Kudus Jawa Tengah, Kyai Tunggul Wulung ini dikenal sebagai penginjil asli Jawa.  Terlebih Kyai yang menurut catatan seorang missionaris missi Menonit, Pieter Jansz, memiliki watak temperamen berbadan tinggi besar dan tegap ini, adalah salah seorang prajurit Pangeran Diponegoro.  

Kyai Tunggul Wulung ini saat membantu perang Diponegoro (1925-1930) memiliki nama Demang Padmodirdjo.  Demang Padmodirdjo ini saat kecil bernama Raden Tondho, yang adalah keturunan Mangukenagaran Surakarta dari garwa selir.  Saat dewasa bernama Padmodirdjo dan menjadi demand di Kabupaten Kediri Jawa Timur.  Panggilan jiwanya membela tanah kelahirnannya, maka ia kemudian bergabung dengan Pangeran Diponegoro, tokoh yang saat ini menjadi pahlawan nasional Repunlik Indonesia.

Sebagaimana diketahui, bahwa akibat diperdaya oleh seorang Jendral Belanda, De Cook, maka Pangeran Diponegoro ditangkap dan dibuang di Sulawesi.  Hal ini mengakibatkan para prajuritnya buyar, mencari keselamatan masing-masing.  Demang Padmodirdjo dalam pelariannya sampailah di sebuah daerah yang termasuk kabupaten Pati, daerah itu bernama Juwana.  Untuk menghilangkan jejak, maka Demang Padmodirdjo mengganti Namanya dengan Kyai Ngabdulah.  Kyai Ngabdulah ini kemudian memiliki kehidupan yang layak secara sosial dan ekonomi.  Tetapi kehidupan tersebut tidak memuaskan dirinya.

Pencarian Jati Diri

Dalam usaha pencarian jati dirinya, Kyai Ngabdulah belajar kekristenan kepada seorang tenaga misionaris di Semarang.  Hal ini kemudian berlanjut dengan “laku”-nya sebagai orang Jawa yang gandrung dengan kerohanian, dengan bertapa di Gunung Kelud Jawa Timur.  Dalam pertapaannya itulah, Kyai Ngabdulah mengganti Namanya dengan nama Kyai Tunggul Wulung.  Adapun nama Tunggul Wulung itu sebenarnya nama Senopati pada Kerajaan Kediri pada masanya.  Namun ada yang mengartikan nama Tunggul Wulung itu adalah nama makhluk gaib penunggu kawah Gunung Kelud.

Dalam pertapaannya, Kyai Tunggul Wulung bertemu dengan seorang bangsawan putri Kediri yang bernama Endang Sampurnawati.  Dikisahkan bahwa Endang Sampurnawati ini suka sekali bertapa.  Hal ini dilakukannya untuk mencari jati diri dan ketenangan hidupnya.  Kedua tokoh ini kemudian bertapa Bersama-sama.  Menurut sebuah buku sumber, pada saat mereka bertapa itulah, mereka mendengar sebuah bisikan atau wangsit supaya membaca sesuatu.  Setelah mereka cari, maka mereka menemukan sebuah tulisan di sebalik tikar yang mereka gunakan bertapa, tulisan hukum 10 perintah Allah yang di dalam kitab Injil tertulis dalam Keluaran 20:1-17.  Setelah membaca ayat itu, mereka kemudian turun gunung ke kota Mojowarno yang saat itu ada seorang misionaris yang bernama Jellesma.  Mereka kemudian berguru kepada Jellesma tentang ngelmu Kristen.  Setelah beberapa bulan belajar, kemudian mereka mewartakan Injil kepada orang-orang di daerah Malang dan sekitarnya.

Setelah kemudian dibaptis oleh Jellesma, Kyai Tunggul Wulung mendapatkan imbuhan nama baptis Ibrahim, maka mereka pun berdua yang telah berstatus sebagai suami dan istri, Kyai Ibrahim Tunggul Wulung dan Nyi Endang Sampurnawati melakukan perjalanan yang mereka sebut “tapa ngrame” dengan cara berbuat baik dan memberitakan kabar sukacita, Injil kepada masyarakat yang mereka temui hinggal kemudian mereka membuka hutan untuk pemukiman di daerah Ujung Jati dan Bondo Jepara.  Selain pemukiman, mereka juga membuka sebuah pasamuwan di daerah Bondo Jepara.  Selain itu dalam perjalanan pelayanannya, Kyai Tunggul Wulung juga membuka pelayanan di Banyutowo dan Tegalombo yang termasuk wilayah Kabupaten Pati Jawa Tengah.

Redefinisi dan Revitalisasi

PEWARNA (Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia) pusat memiliki perhatian besar dalam kisah legendaris ini.  Bukan hanya pada kisah Tunggul Wulung ini saja, tetapi juga pada para pekabar Injil Jawa yang telah memberi diri dalam pelayanannya, seperti Paulus Tosari (Mojowarno Jawa Timur) dan Kyai Sadrach (Purworejo Jawa Tengah).  Bulan Maret 2022 yang baru lalu, PEWARNA Pusat yang dikomandani oleh Yusuf Mujiono ini telah melakukan napak tilas ketiga tokoh legendaris penginjik Jaw ini.  Yusuf Mujiono (50?), menurut keterangannya ingin menggali semangat penginjilan para tokoh legendaris ini.  Selain itu, menurutnya, kebudayaan Jawa yang kental sekali digunakan sebagai sarana penginjilan sangat menarik untuk didalami.  “Kita tidak bisa lepas dari kehidupan berkebudayaan.  Kita menggali nilai-nilai budaya khususnya budaya, Bahasa Jawa yang digunakan oleh para tokoh legendaris penginjil Jawa ini.”

Seorang narasumber, Ki Suyito Basuki (58), seorang pendeta yang melayani di GITJ (Gereja Injili di Tanah Jawa) Kedung Penjalin Jepara yang juga adalah Ketua Dewan Penasihat PEWARNA Jateng, dalam uraiannya sebagai narasumber beberapa waktu yang lalu menyampaikan bahwa penggalian semangat dan metode penginjilan Tunggul Wulung sangat penting pada era gereja masa kini.  Menurutnya, penginjilan masa kini hendaknya didefinisikan dan direvitalisasi berdasarkan semangat penginjilan yang dilakukan oleh para penginjil Jawa ini.  “Penginjilan saat sekarang ini memang banyak tantangannya, tetapi kita tidak boleh berhenti menyampaikan kabar sukacita ini, karena perintah Tuhan dalam amanat agung yang tertera dalam Matius 28:19-20 dan Kisah Rasul 1:8 jelas sekali.  Para Rasul telah melakukan pekerjaan ini sehingga terdapatlah jemaat mula-mula hingga meluas sampai saat ini.  Oleh karena itu kita perlu meredefinisi dan Merevitalisasi penginjilan, sehingga spirit para penginjjil Jawa, baik Tunggul Wulung, Paulus Tosari ataupun Kyai Sadrach bisa kita tangkap dan memberi energi baru dalam pewartaan.” Demikian pendeta yang juga memainkan wayang wahyu atupun wayang purwa dalam pengembangan pelayanannya.

Pembuatan Film Dokumenter

Sehari setelah melakukan pelatihan pembuatan film pendek, Rabu 22 Maret 2023 di GITJ Bondo Jepara, maka Kamis 23 Maret 2023, PEWARNA Pusat melakukan pembuatan film documenter Kyai Tunggul Wulung.  Film dokumenter yang disutradarai oleh Gabriel Hartanto yang juga sekaligus penulis naskah skenario filmnya itu, selain dikerjakan oleh crew film dari PEWARNA Pusat Jakarta, juga melibatkan para peserta Latihan pembuatan film pendek itu menjadi aktor dan aktris serta pekerjaan teknis syuting di lapangan.  Lokasi syuting diambil di wilayah sekitar desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara.

Yahya Kumarawangi (23) seorang pemeran petani dan murid Tunggul Wulung merasa terkesan dengan dilibatkannya sebagai seorang pemain dalam fil documenter itu.   Yahya Kumarawangi yang adalah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Kependidikan Seni Rupa itu menyatakan pengalaman terlibat dalam pembuatan film itu merupakan pengalaman yang luar biasa.  Menurutnya,” Saya belajar banyak dari proses pembuatan film kemarin, sekaligus menginspirasi kami untuk membuat film pendek juga,” demikian ujarnya.

Seorang peserta yang juga dilibatkan dalam pembuatan film, sebagai asisten produser, Daniel Dio Saputra (25) yang kesehariannya menjadi pekerja media di GITJ Kedung Penjalin, menyatakan kebanggaannya bisa terlibat dalam pembuatan film ini.  Dengan semangat dia berkata,” Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya ya, bisa ikut berpartisipasi bersama orang² hebat, dimana ini juga pengalaman pertama saya akan tetapi sudah diberi mandat sebagai asisten produser, walaupun saya juga masih belum paham betul tugasnya asisten produser itu apa, tapi karena bantuan dari para senior, saya yakin aja pasti bisa, dan saya harap kesempatan ini bukan yang terakhir kalinya.” (Bas)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to content