Letusan Gunung Ruang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, kembali terjadi, pada Jumat 19 April 2024 pukul 17.06 WITA. Tinggi kolom abu hingga 400 meter.

Letusan Gunung Ruang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, kembali terjadi, pada Jumat 19 April 2024 pukul 17.06 WITA. Tinggi kolom abu hingga 400 meter. /Foto: dok. Info Gunung Api Sitaro

Sitaro, SUARAUMAT.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan, ribuan penduduk telah ‘dipaksa’ untuk mengungsi karena dampak dari letusan Gunung Ruang di Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara.

Dijelaskan telah terjadi peningkatan area yang terdampak oleh letusan gunung berstatus ‘Awas’ level IV dengan ketinggian 725 mdpl ini.

Meskipun demikian, total jumlah pengungsi masih dalam proses pendataan karena tersebar di beberapa lokasi yang berbeda.

“Jumlah total pengungsi hingga saat ini masih dalam proses pendataan,” ungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam siaran pers, Minggu 21 April 2024.

Aam, yang akrab disapa, memberikan detail bahwa sejauh ini, jumlah warga yang terdampak dan mengungsi adalah 506 orang dari Desa Laingpatehi dan 332 orang dari Desa Pumpete.

Selain itu, 679 orang dari Desa Tulusan telah mengungsi ke Desa Batumawira, Desa Bira, Desa Buha, dan Desa Kisihang di Kecamatan Tagulandang.

Sedangkan 83 orang dari Desa Barangka Pehe mengungsi ke Gedung Gereja Yerussalem, yang sudah dilengkapi dengan dapur umum yang dikelola oleh warga jemaat setempat.

“Kurang lebih 6.045 warga Desa Kelurahan Bahoi dan Kelurahan Balehumara juga mengungsi di Kecamatan Tagulandang Utara,” tuturnya.

Sementara itu di Desa Lesah, terdapat 31 warga yang menjadi pengungsi, di antaranya adalah pasien RSUD Batuline yang saat ini berada di Gereja Betel Paninteang.

Sementara itu, 60 pengungsi dari Desa Balehumara dan Bahoi telah mencari perlindungan di rumah-rumah kerabat mereka masing-masing. Selain itu, ada 14 warga lainnya yang memilih untuk mengungsi di Kota Manado.

Selanjutnya, sebanyak 28 warga dari Desa Pahiama, Kecamatan Tagulandang, telah mengambil keputusan untuk mengungsi secara mandiri di Siau, sementara 32 warga lainnya memilih mengungsi di Kota Bitung dan Kota Manado.

Tercatat juga, 619 pengungsi warga Kabupaten Sitaro mengungsi di Balai Kota Bitung. Beberapa di antaranya sudah berpindah ke rumah kerabatnya masing-masing.

“Sementara itu ada sebanyak 48 warga Kabupaten Sitaro yang mengungsi di Kabupaten Minahasa Utara. Mereka memilih tinggal sementara di rumah kerabat masing-masing,” tuturnya.

Sebagai bentuk dukungan, BNPB telah mengirimkan bantuan yang terdiri dari 5 set tenda pengungsi, 100 unit tenda keluarga, 4 unit light tower, 4 unit genset, 300 paket sembako, 300 paket makanan siap saji, 300 paket hygine kit, 300 lembar matras, 300 lembar selimut, dan 150 lembar kasur lipat.

Selain itu, juga disertakan 300 kotak masker, 50 unit velbed, 10 paket toilet portable, dan 300 paket survival kit.

Bantuan ini dikirimkan melalui pesawat dan tiba di Gorontalo, kemudian diangkut menggunakan 5 truk menuju pelabuhan Bitung.

Langkah alternatif ini diambil karena Bandara Sam Ratulangi di Kota Manado masih tutup hingga 21 April 2024 pukul 12.00 WIB. Sisa bantuan akan dibongkar ke KRI Kakap TNI AL.

“Skenarionya apabila tidak termuat semua akan disimpan di posko pangkalan kapal TNI AL untuk diangkut pemberangkatan berikutnya,” kata Aam.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content